1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>

Pagi Yang Bahagia

Sunday, 13 November 2011 23:20

Written by Admin

PDF Print E-mail

Pagi Yang Bahagia*

Wow senin pagi, bagi berbagai pihak semua mempunyai arti yang bermacam-macam.Ada yang semangat menyambut hari dengan penuh semangat dan optimisme tinggi.Ada yang melewatinya sebagai rutinitas harian yang memang harus dilaksanakan. Ada pula yang hebohnya luar biasa, heboh ini menular kepada semua anggota keluarga, ada yang heboh karena bangun kesiangan, ada yang heboh masakannya gosong, ada yang heboh seragam putra-putrinya ternyata belum diselesaikan, ada yang anaknya merengek karena belum kerjain pr dan buku penghubung. Ada yang panik karena karena tiba-tiba kendaraan di rumah mogok. Hal yang sepertinya sederhana tetapi ternyata berefek besar pada pola kehidupan masing-masing keluarga yang ada didalamnya.

Saat sejak pagi anak sudah melihat kehebohan keluarganya, maka dalam neuron otaknya akan terpatri bahwa setiap pagi akan ditemui suatu kejadian yang luar biasa, bayangkan saja jika kehebohan ini terjadi setiap 5 hari dalam seminggu sebulan sudah 20 hari maka setahun sudah 240 kali terjadi dalam hidupnya. itu apabila setahun coba kalau 10 tahun pasti itu sudah jadi model baginya karen terjadi 2400 kali dalam sepuluh tahun. Seandaninya kehebohan itu disertai omelan atau wejangan ortu yang semakin menghebohkan seperti "kamu sih gak bangun pagi," atau "kamu sih males kerjain prnya jadi sekarang belum selesai kan?,", aduh adik gini lagi gini lagi kok diulang terus sih." Dan ini juga berpengaruh pada emosional sianak juga si anak akan berespon untuk bangun, untuk mandi, untuk mengerjakan pr jika ada teriakan atau sirene dari orang tua. Bila dunia tenang dia pikir ini adalah hari libur yang boleh bangun siang atau bermalas-malas.

Jika orangtua ini saat pagi ingin  tidak heboh atau ingin semua terasa indah dan bahagia, maka dari pihak orangtua harus memutuskan rutinitas yang menghebohkan tersebut jika tidak ingin rutinitas penuh teriakan dipagi hari, kehebohan, rasa marah, putus asa muncul di pagi hari akan berlanjut tujuh turunan. Usahakan orangtua di hari sebelumnya sudah menyiapkan segala secara seksama seperti bahan untuk sarapan, kelengkapan baju esok harinya, kelengkapan peralatan esok harinya, pastikan ada letak kunci yang permanen dirumah tersebut sehingga pagi mood tidak berubah hanya gara-gara "kunci.". Untuk anak yang sudah SD pastikan kita malam harinya "hanya" mengingatkan latih ia mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri seperti tanggung jawab pada tasnya, pada buku-bukunya, pada pr nya, usahakan "tidak" mengomel saat ia lupa akan "PR"nya, karena sebenarnya itu adalah pengalaman yang diperlukan untuk melatih kedewasaan dan rasa tanggung jawabnya. bersambung

*by dokter vivi spesialis anak cerdas owner rumah cerdas.